Fiuh ~!, lega.. Sehabis ujian tentu saja lega
, bebas dari kepenatan, bebas dari dari tuntutan, bebas dari tugas. Yang bisa memberi kelegaan : setelah ujian ->lega, setelah minum-> lega, setelah makan-> lega ,dsb.
.. Lega begitu identik dengan penyelesaian dan kebebasan.
Begitu banyaknya hal yang bisa membuat kita lega berupa kepuasan selain hal-hal di atas, saya ambil satu contoh BERDOA. Banyak yang bilang “wah saya merasa lega sehabis berdoa”. Eits tunggu dulu lega karena apa nih?? Tanpa disadari berdoa tatkala menjadi hal yang boleh memberi kelegaan dengan dua sisi. Di satu sisi lega deh abis berdoa, curhat alias talking2 dengen Tuhan
, di sisi lain seperti beban kewajiban yang jika dituntaskan dengan cepat bisa memberi kelegaan. Saya sendiri menyebut di sisi kedua yaitu doa asal. Asal ada aja deh doanya.. Kalo sampe tidak ada ada yang mengganjal di hati karena belum diselesaikan. Doa makan asal cepat karena cacing dah melompat-lompat
, doa tidur asal saja yang penting semua kepentingan saya terpenuhi. Doa memberi kelegaan karena kita telah menyelesaikannya, bukan lagi kelegaan yang didapat karena kebutuhan kita berbicara dengan Tuhan terpenuhi. Melipat tangan dan tutup mata hanyalah sebuah pidato formal dengan kata-kata manis, terus bicara tanpa mendengar, tanpa komunikasi dengan Tuhan.
Contoh lainnya adalah PELAYANAN. Begitu banyak “kerjaan” dalam pelayanan yang harus dituntaskan, harus melakukan ini ,itu, ono, dan oto, istilahnya sih sudah banting tulang harus jungkir balik lagi. Kalau sudah selesai , yah tentu saja lega
. Ini yang saya alami dalam beberapa kali pelayanan. Sudah selesai suatu pelayanan tampaknya semua tanggung jawab sudah selesai dan merasa lega karena “kerjaan” tersebut telah selesai. Lega karena saya tak perlu repot mengurusi ini itu, tak perlu repot harus memberi laporan lagi, tak perlu repot untuk mengevaluasi lagi, pokoknya tidak “repot”!! YAh sepertinya saya hanya melayani kerepotan itu sendiri. Lega karena beban hilang hanya terasa ketika beban tersebut tidak lagi dipikul. Apa menariknya kelegaan seperti ini?? Bagaimana jika harus menerima beban ini seumur hidup ?? Bukankah melayani seharusnya hingga akhir hayat??
Apa yang dilakukan dengan paksaan memberi kelegaan sesaat, tetapi kelegaan senantiasa mengikuti tindakan yang penuh dengan sukacita dan ucapan syukur
.